A.  PENDAHULUAN

            Berbicara tentang belajar dan pembelajaran adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah berakhir sejak manusia ada dan berkembang di muka bumi ini sampai akhir jaman nanti. Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Dimana dalam konteks ini seseorang menjadi tahu, paham, serta mampu untuk mengembangkan sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.

Dalam proses belajar dan pembelajaran, manusia harus mempunyai suatu cara atau langkah-langkah untuk mengolah, mengembangkan, dan menerapkan berbagai macam pengetahuan-pengetahuan yang telah diperolehnya melalui proses belajar. Ini berkaitan dengan metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran. Metode pembelajaran adalah seluruh perencanaan dan prosedur maupun langkah-langkah kegiatan pembelajaran termasuk pilihan cara penilaian yang akan dilaksanakan. Metode pembelajaran dapat dianggap sebagai sesuatu prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan pembelajaran.

Dalam pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar mempunyai peranan penting untuk mengkondisikan peserta didik atau dalam hal ini siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di dalam proses pemahaman materi yang disampaikan oleh seorang pendidik (guru). Saat ini di berbagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tanah air sudah menerapkan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi dari masing-masing sekolah. Namun, kebanyakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menggunakan prinsip belajar behavioristik, dimana pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, sehingga siswa harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dahulu secara ketat. Disamping itu, guru sebagai pusat dari berbagai informasi, komunikasi yang terjadi berlangsung satu arah, serta guru harus melatih dan menentukan apa yang akan dipelajari oleh siswa. Prinsip behavioristik ini cenderung dengan metode ceramah yang mengakibatkan siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Jika keadaan ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan bahwa generasi penerus bangsa kurang mampu untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Untuk itu, perlu adanya metode pembelajaran yang mampu mengkonstruk atau membangun pengetahuan siswa agar mempunyai wawasan yang luas dan mampu menumbuhkan ide-ide yang kreatif serta memacu untuk berprestasi.

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah metode Inquiry Based Teaching (IBT) dengan pendekatan konstruktivistik.

Pembahasan dalam makalah ini akan dibatasi berdasarkan rumusan masalah. Rumusan masalah dalam makalah ini adalah (1)Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran Inquiry Based Teaching (IBT)?, (2) Bagaimana cara menerapkan metode Inquiry Based Teaching (IBT) dengan pendekatan konstruk­tivistik dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)?, (3) Keuntungan apa yang diperoleh dari metode Inquiry Based Teaching (IBT) dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)?

B.  PENGERTIAN METODE PEMBELAJARAN INQUIRY BASED TEACHING (IBT)

            Inquiry berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat  merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran inquiry beriori­entasi pada keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, mengembangkan sikap percaya diri pada siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inquiry.

            Inquiry dilakukan melalui langkah-langkah seperti observasi dan pengukuran, hipotesis, interprestasi, dan penyusunan teori. Inquiry memer­lu­kan eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan terhadap kekuatan dan kelema­han­ metode yang digunakan (Hebrank, 2000). Inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993).

            Dalam bidang pembelajaran, dikenal metode pembelajaran yang disebut Inquiry Based Teaching (IBT), yaitu sebuah metode pembelajaran yang menjadi­kan guru untuk menciptakan situasi yang memposisikan siswa sebagai ilmuwan. Siswa mengambil inisiatif untuk mempertanyakan suatu fenomena, mengajukan hipotesis, melakukan observasi di lapangan, menganalisis data, dan menarik simpulan, serta menjelaskan temuannya itu kepada orang lain. Jawaban yang diharapkan atas pertanyaan tersebut tidak bersifat tunggal tetapi jamak. Yang terpenting adalah bahwa dalam mencari jawaban, siswa bekerja dengan menggu­na­­kan standar tertentu yang jelas sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, dimungkinkan siswa mengintegrasikan dan men­si­ner­gi­kan berbagai disipin ilmu dan metode yang berbeda (Budnitz, 2003).

C.  CARA MENERAPKAN METODE INQUIRY BASED TEACHING (IBT) DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK DALAM PEMBELAJA­RAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)

MenurutBerman dan Kotar (1989) untuk menerapkan metode Inquiry Based Teaching (IBT) ada beberapa tahapan sebagai berikut:

1.    Ekplorasi

Pada tahap ini, siswa bebas menemukan dan memanipulasi materi pelajaran. Pengajaran tentang konsep belum diberikan, sehingga siswa bebas bereksplorasi dan mengajukan pertanyaan atau gagasan. Dalam hal ini siswa, baik secara individu maupun kelompok melakukan observasi dan mencatat data. Guru berperan sebagai fasilitator untuk mengamati, mengajukan pertanyaan, dan memberikan saran. Tahap ini disebut tahap penemuan terbimbing yang dilakukan oleh guru.

2.    Pengenalan Konsep. 

Pada tahap ini, siswa dibawah bimbingan guru, mengorganisasikan data yang telah dikumpulkan dan mencari pola yang muncul. Selanjutnya, mereka saling menyampaikan dan membandingkan temuannya dengan teman atau kelompok lain. Pada tahap ini, guru dapat memberikan tambahan informasi yang berupa referensi atau sumber-sumber lain yang relevan. Selanjutnya siswa dapat melanjutkan pencariannya atau melakukan penguatan atas temuannya itu dengan cara membaca referensi tersebut dan mengkomuni­kasi­kannya kepada guru atau teman lain.

3.    Aplikasi Konsep

Pada tahap ini, siswa diberikan permasalahan yang harus mereka pecahkan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui penemuan di lapangan dan membaca referensi. Pada tahap ini biasanya guru memberi aktivitas tambahan yang dapat memberi penguatan hasil belajar sebelumnya.

Menurut Hamzah (2008), pembelajaran dengan pendekatan konstrukti­vis­tik meliputi 4 tahapan yaitu:

1.    Apersepsi. Menghubungkan konsepsi awal, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dari materi sebelumnya yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide baru.

2.    Eksplorasi. Menggali, menyelidiki dan menemukan konsep yang lebih banyak yang dapat dijadikan bahan untuk menambah informasi dan pengetahuan.

3.    Diskusi dan Penjelasan Konsep. Mengkomunikasikan hasil penyelidikan dan tamuan dari siswa, kemudian mendiskusikan bersama dan peran guru untuk memfasilitasi dan memotivasi kelas.

4.    Pengembangan dan Aplikasi. Konsep awal yang telah ditemukan dari berbagai penyelidikan kemudian dikembangkan, merumuskan kesimpulan, serta menerapkannya melalui pengerjaan tugas atau proyek.

Beberapa tahapan diatas dapat diterapkan dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) khususnya pada mata pelajaran normatif dan adaptif karena berisi mata pelajaran yang umum dan langsung berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tidak hanya pada mata pelajaran normatif dan adaptif saja, metode pembelajaran ini juga dapat diterapkan dalam mata pelajaran produktif yang berkaitan langsung dengan praktikum sesuai dengan jurusannya masing-masing.  Dalam mata pelajaran produktif, guru terlebih dahulu menyampaikan teorinya secara garis besar kemudian dilanjutkan dengan aplikasinya dalam praktikum. Dalam kegiatan praktikum siswa diberikan project work dari guru, kemudian guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk menyelesaikan  project work ­nya sesuai dengan kreativitas masing-masing. Dengan kegiatan seperti ini menjadikan siswa lebih kreatif dan produktif sehingga memacu untuk bersaing dalam meningkatkan prestasi.

D.   MANFAAT METODE INQUIRY BASED TEACHING (IBT) DENGAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISTIK DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)

Menurut Hebrank (2000) metode pembelajaran Inquiry Based Teaching (IBT) bermanfaat bagi siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) karena:

1. Materi pelajaran yang dipelajari berkaitan dengan pengalaman sehari-hari siswa yang kadangkala menimbulkan keingintahuan mereka,

2. Dapat membuat siswa aktif karena Inquiry Based Teaching (IBT) meminimali­sir metode ceramah,

3. Dapat mengakomodasikan perbedaan perkembangan siswa,

4. Metode penilaian pada Inquiry Based Teaching (IBT) memungkinkan siswa memperlihatkan kompetensi dengan berbagai cara,

5. Dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran dengan metode belajar yang berbeda,

6. Dapat mengembangkan kompetensi komunikasi siswa karena mereka harus menyampaikan temuannya dengan cara yang mudah dipahami,

7. Dapat mengembangkan berpikir kritis siswa,

8. Dapat membuat siswa lebih mandiri.

Sedangkan manfaat bagi pendidik (guru), dapat menciptakan kesempatan untuk mempelajari bagaimana pikiran siswa bekerja. Pemahaman tersebut dapat digunakan untuk menciptakan situasi belajar dan memfasilitasi mereka dalam memperoleh pengetahuan. Menurut Budnitz (2003), ketika menerapkan Inquiry Based Teaching (IBT)guru dapat mengetahui:

  1. Kapan memberi dorongan,
  2. Petunjuk apa yang dapat diberikan kepada setiap siswa,
  3. Apa yang tidak perlu diberikan kepada siswa,
  4. Bagaimana membaca perilaku siswa ketika mereka sedang bekerja,
  5. Bagaimana membantu siswa berkolaborasi dalam memecahkan masalah secara bersama-sama,
  6. Kapan pengamatan, hipotesis, atau eksperimen bermakna bagi siswa,
  7. Bagaimana mentoleransi ambiguitas (yang mempunyai makna ganda),
  8. Bagaimana memanfaatkan kesalahan secara konstruktif,
  9. Bagaimana membimbing siswa secara tepat.

Metode ini selaras dengan teori konstruktivistik, dimana dalam pembelaja­ran­ berdasarkan konstruktivistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit, memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki oleh siswa, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa. Pendekatan ini mendorong siswa dapat berpikir kreatif, imajinatif, refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasan pada saat yang tepat. Mencoba gagasan baru, mendorong siswa untuk memperoleh kepercayaan diri. Dengan demikian pendekatan konstruktivistik memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.

Sehingga, metode Inquiry Based Teaching (IBT) dengan pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih kreatif, inovatif, dan produktif serta mampu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

DAFTAR RUJUKAN 

Budnitz, Norman. 2003. “What Do We Mean By Inquiry?”.(Online),(http­:­//­www.­biology. duke.edu/cibl/inquiry/what_is_inquiry.htm>), diakses 20 Januari 2012.

Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Felder, R.M., 1988. Learning Styles and Teaching Styles in Engineering Education. Engineering Education 78 (7) 674-781.

Hamzah. 2008. Teori Belajar Konstruktivisme, (Online), (mhtml: file://C:\­cons­truc­­­tivism/Teori Belajar Konstruktivisme), diakses 20 Januari 2012.

Haury, L. David. 1993. Teaching Science through Inquiry. Columbus, OH: ERIC Clearinghouse for Science, Mathematics, and Environment Education. (ED359048).

Hebrank, Mary. 2000. “What Inquiry Based Teaching and Learning in the Middle ­School Science Classroom?”.(Online), (http://www.biology­.duke.­edu/­cibl/inquiry/why_is_inquiry.htm>), diakses 20 Januari 2012.

Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s