Fenomena yang sering terjadi di negeri kita sekarang adalah mengenai korupsi. Permasalahan ini tidak akan pernah selesai dengan cepat. Sebenarnya apa penyebab dari permasalahan yang sudah meng-akar dari orde baru ini?.

Dan inilah pertanyaan yang akan selalu mendapat jawaban berbeda-beda dari banyak elemen masyarakat kita. Ada yang bilang karena mereka tidak punya rasa malu, mereka hanya bertuhan, tidak beragama. Bahkan ada juga yang bilang bahwa system birokrasinya yang salah, karena hanya untuk duduk di kursi pemerintahan saja, mereka harus membayar yang tidak sedikit.

Yah, itulah fenomena yang akan selalu terjadi di negeri ini selama kepemerintahan tidak tegas, tidak mempunyai pedoman dalam memerintah negeri ini. Kepemerintahan saat ini hanya dibelenggu oleh sebuah politik yang bermula dari pencitraan, jadi kekuatan politik ini akan lemah dimakan jaman. Lalu kekuatan politik seperti apa yang kuat ?.

Namun, sebenarnya cerminan pemimpin bangsa ini adalah juga potret dari kondisi masyarakatnya sendiri. Yang jadi pemimpin itu dipilih oleh rakyat, rakyat yang memilih. Dan ketika mereka korupsi dan melakukan kesalahan yang lain, ya itu juga cerminan masyarakat itu sendiri.

Seperti halnya kisah di Surabaya ketika seorang Ibu yang membeberkan kebenaran bahwa ada tidak kejujuran di sekolahan anaknya, semua masyarakat malah mencekal dan mengusir dia dari desanya. Mereka berpikir menyontek adalah wajar dan sudah lumrah. Ini menandakan bahwa kejujuran itu tidak wajar dan tidak baik.

Korupsi juga hal demikian, mereka nantinya juga akan berpikir bahwa korupsi itu wajar. Karena korupsi adalah kejadian yang bermula dari mencontek (menyuri) yang lebih besar, ketika hal kecil seperti mencontek dianggap biasa dan wajar, maka korupsi juga akan demikian. Nauzubillah.

Berbicara tentang Kepemimpinan yang benar dan ideal hanya ada ketika jaman Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Namun, kita juga sebagai Calon Pemimpin juga bisa meniru dan menjadi seperti mereka.

Ketika kepemimpinan Abu Bakar As Shidiq, beliau sama sekali tidak meninggalkan harta untuk keluarganya karena semua hartanya dishodakohkan.

A’isyah ra. Bercerita : “ ketika Abu Bakar meniggal, kami periksa warisan yang ia tinggalkan. Ternyta kami hanya mendapati seorang hamba sahaya Habsyi, seekor unta pengangkut air dan baju using yang harganya lima dirham”

Ketika kepempinan Umar bin Khaththab. Pada era umar, umat islam berada dalam peride pembangunan, dimana bangsa – bangsa yang aneka warna dengan beragam pemikiran dan pemahaman jahiliyahnya telah memeluk Islam. Maka yang dilakukan oleh Negara adalah Negara harus memberikan perhatian serius terhadap tarbiyah bangsa-bangsa tersebut dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Bila tidak, maka umat terancam bahaya perbedaan pendapat dan pertentangan aliran pemikiran.

Dengan tabiat dan fitrahnya, Umar bin khaththab ra adalah seorang murrobi. Ia adalah guru besar tarbiyah di Madinah. Ada sebuah riwayat tentang beliau yang seharusnya memang menjadi syarat seorang pemimpin negeri ini.

Diriwayatkan bahwa, Hudzaifah ra bercerita : ”Suatu saat kudapati Umar dalam keadaan sedih. Maka aku bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmua bersedih, wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab:”saya takut terjebak kedalam perbuatan mungkar, lalu tidak ada orang yang mengingatkanku karena takut kepadaku” mendengar jawaban itu, maka Hudzaifah ra berkata:”Wallahi, jika aku melihat engkau menyimpang dari kebenaran, pasti aku akan mengingatkanmu. Jika engkau tidak mau mendengar, aku akan mengingatkanmu dengan pedang!” Umar bin Khaththab pun bergembira, seraya berkata: ”Segenap puji bagi Allah yang telah menjadikan untukku pendamping yang berani mengingatkan aku bila salah!”. Dan hanya bukan itu saja, masih banyak hal lain yang seharusnya ada dan melekat pada sosok seorang pemimpin. Dan salah satu ketakutan Umar bin Khaththab adalah ketakutan terhadap fitnah harta.

Menjadi pemimpin sungguh sangat rawan terhadap fitnah harta, maka yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin adalah dalam memimpin Jangan berorientasi pada harta, berorientasinya pada Allah. Dan itu yang dilakukan oleh Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khathab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Ini hanya sedikit gambaran umum dari sosok pemimpin ideal, pemimpin yang selalu memperhatikan masalah-masalah yang terjadi dan mencari pemecahan (solusi)
Sebelum melangkah jauh lagi, mari kita mengulas balik sebenarnya apa yang menjadi dasar dari Negara ini setelah reformasi? Pancasila? Yakin?.

Bahkan akhir-akhir ini ketua MA menyatakan “mari kita kembali ke Pancasila”, lalu pertanyaannya sekarang adalah emang selama ini Pancasila kemana ???. bukankah pancasila adalah ideology bangsa ini sejak dari awal kemerdekaan. Lalu di era reformasi sekarang, apakah pancasila sudah mulai memudar?, apa mungkin malah sudah tidak pernah diterapkan oleh Pemerintah saat ini?

Indonesia sudah kehausan akan sosok pemimpin. Belum ada sosok pemimpin yang muncul dan dapat memberikan titik cerah untuk kemajuan Indonesia. Kapan ?. banyak yang berharap pemilu 2014 adalah awal mula dari keluarnya sosok pemimpin idaman untuk negeri ini. Semoga itu bukanlah hanya sebuah harapan kosong, bahkan saya juga berharap demikian.

Sosok pemimpin idaman akan hadir, tapi tidak tahu kapan dia datang untuk negeri, mungkin 2014, mungkin juga 2019 atau mungkin di tahun-tahun mendatang atau mungkin sosok pemimpin itu adalah salah satu dari kita. Namun, yang jelas sebelum sosok pemimpin itu datang, mari kita perbaiki akhlak diri kita se-dari sekarang dari mulai hal yang terkecil. Tidak ada kata TERLAMBAT untuk berubah. Karena kita-lah yang nantinya akan menjadi Pemimpin di masa depan untuk bangsa ini.

 

eramuslim.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s