Bumi sebagai planet yang kita tempati telah berubah sesuai dengan perkembangan zamannya, begitupun dengan kehidupan manusia sebagai salah satu makhluk penghuni bumi ini. Komunikasi merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Gordon mengungkapkan bahwa “kemampuan berkomunikasi adalah salah satu sifat utama manusia”. Pernyataan ini mengimplikasikan bahwa komunikasi telah menjadi suatu kebiasaan bahkan menjadi salah satu ciri dari manusia.
Seiring dengan perkembangan zaman diatas, komunikasi telah mengalami suatu perkembangan dan perubahan yang sangat pesat, bahkan dunia kini dikatakan sedang mengalami era teknologi informasi dan komunikasi.
Handphone atau yang biasa kita sebut hp merupakan salah satu contoh hasil teknologi yang memberikan kemudahan dalam melakukan sharing informasi dan komunikasi. Hampir seluruh lapisan masyarakat mengenal dan memiliki alat komunikasi yang satu ini. Dengan adanya handphone, komunikasi dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang dalam melakukan komunikasi. Seseorang tidaklah harus mengeluarkan banyak energi, waktu dan biaya lagi untuk dapat berkomunikasi, hanya dengan memencet nomor tujuan seseorang sudah bisa terhubung dengan orang yang kita tuju.
Kemajuan teknologi komunikasi telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Handphone telah mampu memperpendek jarak yang jauh, sehingga dapat saling berkomunikasi pada saat bersamaan. Ia banyak membantu komunikasi antar invividu dan bahkan antar kelompok dengan berbagai fasilitas layanan yang disediakan jasa telekomunikasi. Bahkan dalam gejolak industri musik nada sambung pribadi yang ditawarkan kepada konsumen telah membuka lahan indsurti baru di bidang dunia musik independent music portal (portal musik independen) yang bisa dibeli lewat pengiriman sms (short message services).
Alat komunikasi hp pada saat ini sudah bukan merupakan barang mewah, dan hampir sebagaian besar siswa SMA memilikinya. Keberadaan alat tersebut dapat dirasakan manfaatnya untuk menjalin komunikasi antar teman bahkan antar siswa dengan guru atau sebaliknya. Di lingkungan masyarakat pun, benda tersebut sudah menjadi sesuatu yang biasa bukan lagi barang eksklusif.
Kemudahan dan kelengkapan, mungkin itulah yang menjadikan handphone sebagai teknologi yang “user friendly”. Kelengkapan fitur yang dimilikinya menjadikan handphone bukan hanya sebagai alat komunikasi akan tetapi juga sebagai alat hiburan, karena seperti dapat kita jumpai, untuk saat ini hampir seluruh handphone telah dilengkapi dengan fitur games dimana kita dapat memainkan berbagai macam permainan, mp 3 kita dapat mendengarkan musik, dan kamera kita dapat mengabadikan berbagai gambar.
Tidak bisa dipungkiri keberadaan handphone telah membawa perubahan dan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Begitu banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari penggunaannya termasuk salah satunya dalam bidang pendidikan.
Pendidikan merupakan usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mencapai tujuan pembangunan nasional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20. pasal 1 ayat 1 Tahun 2003 dinyatakan bahwa:”Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam arti luas pendidikan adalah hidup. Artinya pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) diberbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.
Sedangkan dalam arti sempit pendidikan hanya berlangsung bagi mereka yang menjadi siswa pada suatu sekolah atau mahasiswa pada suatu pegururan tinggi (lembaga pendidikan formal). Pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran (instruction) yang terprogram dan bersifat formal. Pendidikan berlangsung di sekolah atau di dalam lingkingan tertentu yang diciptakan secara sengaja dalam konteks kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Begitu pun dalam bahasa Inggris ”education” atau pendidikan dikatakan berasal dari perkataan Latin “educare” yang bermakna memelihara dan mengasuh anak. Adapun John Dewey berpendapat , pendidikan adalah satu proses pertumbuhan dan perkembangan. Beliau memandang pendidikan sebagai satu usaha mengatur pengetahuan untuk menambahkan lagi pengetahuan semula jadi yang ada pada seseorang individu itu . Sedangkan James Mill mengatakan, pendidikan adalah satu proses memberi pertolongan maksimum kepada setiap anggota masyarakat supaya hidup dengan penuh keselesaan serta kegembiraan.
Oleh karena itu jelaslah bahwa pendidikan adalah merupakan suatu proses menolong dan memajukan pertumbuhan dan perkembangan seseorang individu dari semua aspek yaitu jasmani , akal , emosi, sosial , seni dan juga moral untuk mengembangkan individu supaya hidup dengan sempurna serta memperkembangkan bakatnya untuk kepentingan diri dan menjadi ahli masyarakat yang berguna.
Salah satu proses pendidikan adalah pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik baik yang dilakukan antara guru dan murid maupun murid dan murid untuk merncapai tujuan. Pembelajaran pada dasarnya adalah kegiatan mengkoordinasikan unsur-unsur pembelajaran yakni mengatur dan menetapkan unsur-unsur tersebut yang merupakan hubungan sistemik. Adapun unsur-unsur tersebut adalah tujuan, materi, metode dan strategi, media, serta evaluasi dan penilaian.
Media sebagai salah satu komponen pembelajaran mermiliki kontribusi yang sangat berarti terhadap keberlangsungan proses pembelajaran. Dengan adanya media berbagai keterbatasan dalam proses pembelajaran dapat teratasi termasuk salah satunya dalam keterbatasan waktu dan tempat.
Pada beberapa waktu lalu pernah ditayangkan sebuah iklan merek handphone tertentu yang bercerita tentang pengalaman ketinggalan bis. Tetapi orang tersebut justru terlihat tidak terlalu risau dan sesaat kemudian mengeluarkan handphone, memasang headset, memutar lagu dari handphone tersebut dan pulang berjalan kaki sambil bersiul-siul dengan gembira. “I enjoy missing the last bus home…” dendangnya..
Bayangkan apabila situasi tersebut menimpa seorang siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran karena sakit atau alasan penting lain. Untuk mengganti waktu belajarnya yang tidak bisa diikuti siswa cukup mengambil handphone, dan melakukan kegiatan pembelajaran melaluinya baik dengan video streaming atau video-calling, mengunduh aplikasi pembelajaran, mengunduh rekaman sesi belajar, maupun melakukan aktifitas-aktifitas belajar lainnya.
Saat ini diperkirakan jumlah pengguna telepon seluler di Indonesia telah mencapai lebih dari 50 juta orang. Sebagian dari jumlah pengguna tersebut adalah siswa, pendidik dan kalangan akademisi. Bahkan sebuah survei menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan handphone di antara para siswa ternyata sangat tinggi. Handphone yang dimiliki para siswa ini-pun konon rata-rata memiliki fitur-fitur yang sudah canggih. Dari kenyataan ini, timbul sebuah pertanyaan: Dapatkah kita mengembangkan model pembelajaran dengan memanfaatkan handphone?
Ketika teknologi informasi, khususnya internet, berkembang dengan pesat, dunia pendidikan mengembangkan model pembelajaran berbasis teknologi informasi yang kemudian dikenal sebagai e-learning (electronic learning). E-learning sendiri menjadi model pembelajaran yang sangat menantang karena seorang siswa akan dapat memanfaatkan mesin pintar komputer yang mampu menjalankan animasi, komputasi dan pemodelan yang canggih, mengakses materi pembelajaran yang sangat besar di internet, berkolaborasi dan berdiskusi dengan banyak orang dari seluruh pelosok dunia, dan cara-cara lain dalam belajar yang belum pernah ada pada paradigma pembelajaran sebelumnya.
Namun, bagi sebagian besar rakyat Indonesia, komputer dan koneksi internet masih menjadi barang mahal dan mewah sehingga e-learning di Indonesia masih terkesan lambat dan cukup sulit diadopsi. Kehadiran teknologi seluler menjanjikan adanya peluang yang cukup potensial bagi dikembangkannya model pembelajaran yang baru mengingat tingginya tingkat kepemilikan perangkat, harga perangkat serta tarif yang semakin murah dan fitur yang semakin canggih. Namun, sejak booming pada dekade belakangan ini, pemanfaatan teknologi seluler masih sebatas alat komunikasi dan hiburan. Sampai saat ini masih sedikit adanya pengembangan dan penelitian yang difokuskan untuk memanfaatkan teknologi seluler sebagai sarana pendidikan.
M-learning (mobile learning) telah menjadi sebuah cara belajar baru yang memungkinkan pembelajaran dapat dilakukan secara mobile dengan memanfaatkan device bergerak, khususnya telepon genggam (handphone). Menurut Muh. Tamimuddin H., M.T., istilah mobile learning (m-learning) mengacu kepada penggunaan perangkat/device teknologi informasi (TI) genggam dan bergerak, seperti PDA, telepon genggam, laptop dan tablet PC, dalam pengajaran dan pembelajaran.
M-Learning merupakan bagian dari electronic learning (e-Learning) sehingga, dengan sendirinya, juga merupakan bagian dari distance learning (d-learning). Distance learning/belajar jarak jauh telah berkembang cukup lama, bahkan sejak zamannya Isac Pitman ketika merasakan kekurangan mengajar korespondensi pada awal akhir tahun 1840-an.
Pendidikan jarak jauh adalah bagian dari pendidikan yang focus dalam mengeefektifkan pedagogy/andragogy, teknologi, dan perencanaan pembelajaran guna menyampaikan pembelajaran kepada siswa yang tidak hadir secara fisik dalam menerima pembelajaran.
Jenis-jenis pendidikan jarak jauh, yaitu:
1. Korespondensi
2. Saluran internet
3. Telecourse/broadcast
4. CD Rom
5. PC/M- Learning
M- Learning, sebagai jenis pendidikan jarak jauh sangatlah releven untuk pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Atwi Suparman (1996) mengemukakan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan penduduk sekitar 180 juta jiwa pada tahun 1992. Dalam hal jumlah penduduk, Indonesia adalah negara kelima terbesar di dunia. Keadaan geografis Indonesia yang sangat luas dan terdiri atas lebih dari 13.000 pulau, menyulitkan transportasi dan komunikasi. Hal ini telah mendorong penggunaan pendekatan sistem pendidikan jarak jauh di samping pendidikan biasa. Sudirjo (1989, dalam Suparman, 1996) menambahkan faktor-faktor lain yang mendorong penggunaan sistem pendidikan jarak jauh, yaitu: distribusi penduduk yang tidak merata, kemampuan sosial ekonomi penduduk yang rendah, dan keterbatasan kemampuan keuangan pemerintah. Tilaar (1999) mengemukakan berbagai faktor yang menunjang, seperti amanat untuk mencerdaskan bangsa yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, keterbatasan sumber daya dan dana untuk membangun fasilitas pendidikan tatap muka, akselerasi pembangunan yang menuntut pemerataan pendidikan, kemajuan teknologi komunikasi, dan kebutuhan akan kesempatan pendidikan tinggi yang lebih luas, dan adanya faktor pemacu seperti falsafah pendidikan seumur hidup, pendidikan untuk semua, dan perkembangan teknologi pendidikan.

Dari pemaparan di atas dapat kita sadari dan rasakan betapa berpotensinya penerapan m- learning terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Melaui m-learning pendidikan dapat dilaksanakan kapanpun dan dimanapun tanpa batasan waktu dan tempat sehingga pembelajaran dapat dilakukan secara efektif, dan efisien guna mencapai tujuan yang direncaanakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s